Marriage

Mates or Maids

I took my phone and dialed one number on my phonebook which I had been doing since yesterday, still no answer. I got bit fed up because I don’t know what is happening and I couldn’t find out.

It was my best friends number, I and she are running business together and she handles the financial while my job is doing promotion and making orders, I needed to order some goods but I couldn’t do anything because she keeps the money with her. She said would transfer the money on Wednesday but till Friday no any news from her. My worried become bigger when I saw her last seen in WA was about 5 days ago. May Allah protects her.

I was afraid because she is easily gets sick, taking care of 3 babies plus a “husband baby” is not an easy tasks while at the same time doing domestic affairs. Several times she got sick because too tired handling mom’s job and doing housework like maid at her mother in law’s house,everyday from morning she does the housework till she close her eyes at night, most of her night she is awake because of her 4 months baby, subhanallah. I feel very bad that couldn’t help her much, sometimes she cried because her situation, not because she isn’t happy as mom and wife but because too much pressures from husband and her husband’s family. She feels that she is responsible for everything at house from laundry to cook, everything.

I completely realize that marriage isn’t only about happiness, sometimes it gives us thunders and strong waves to test the marriage, whether we can pass it or not. But what if the thunders come from the husband himself, which has too much arrogant that divided tasks between spouse and feel shame supporting wife to finish the houseworks.

Marriage in islam is cooperating between spouse to worship Allah, to work together to built family with strong bond to Allah, not to make a wife like servant and give free service for the husband’s family from morning to night. Even maids are paid. What is husband if he cant take care the wife, what if a husband if he just make her life more difficult. Even to enjoy for herself she cant, my best friend has lost her life since she is married, that’s what I see when we met last time.

it is not once she cried because of her marriage, sometimes she cried because too tired at house, sometimes because of financial, sometimes because her husband attitude. Had one time she complained that she didn’t have nothing to buy while her kids cried for food, her husband had money but didn’t like to give it to her, what a crazy man. She isn’t a type of a woman that complains for everything but that time I knew that it was too big for her, thing in her shoulders.

Marriage for me is about killing your ego and selfishness for goodness in family, to listen each other, encouraging each other not to give command and the other one must follow, being a partner is about to discuss, to complete each other and to understand, isn’t like Boss and employer. To feel happy and relax to each other is essential to make marriage lives longer and it only can be reach by listening to each other what they wish for themselves. For their marriages. I may not married yet and I dont know what is marriage has keep for me until I experience it myself but what I know is, finding right partner in marriage is the first thing I must do before take it further step.

Dear sister, how could you suggest me for marriage while I see that your marriage is a something terrible for me?

Allahu’alam.

18 August

21.15Pm with rain.

bahasa, Marriage

Saat Cinta berpaling Darimu

( Pengalaman sejati seorang istri )
( Asma Nadia )
***

Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa gaji suaminya yang masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan?
Apakah dia putus asa ketika mereka harus berpindah-pindah kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain?
Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbulan-bulan hanya makan tempe dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama?
Jawabannya tidak.
Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu sebaliknya selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang menerpa keluarga kecil mereka, tak berarti apa-apa.

Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. Menjelang kelahiran anak pertama mereka, suami masih belum memiliki pekerjaan yang mapan. Tapi perempuan itu tidak putus asa. Sedikitpun dia tak menyesali telah menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia cintai karena kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia hormati, yang dia tahu selalu berupaya sungguh-sungguh untuk membahagiakan, dan membuatnya merasa seperti seorang putri.

Dan kenyataan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan yang nyaris mau runtuh, dengan kamar mandi jelek, dan serangga di mana-mana yang kerap membuat menimbulkan ruam merah pada kulitnya yang putih. Perempuan itu tidak pernah sedikitpun mengeluh.

Lalu anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris bertaut. Dia dan suami menerima kehadiran pangeran kecil itu dengan hati berbunga. Meski mereka harus berhutang ke sana ke mari agar biaya kelahiran yang melalui prosedur caesar itu, bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan itu tidak pernah mengeluh.

Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada yang kuasa, dari waktu ke waktu.
Ketika anak kedua mereka lahir, roda ekonomi keluarga telah jauh lebih baik. Laki-laki yang dicintainya mendapatkan pekerjaan yang mapan. Mereka tak lagi bingung memikirkan kebutuhan sehari-hari, makan, lalu susu buat anak-anak.

Perempuan yang saya kenal sejak lama itu, membantu suaminya dengan bekerja paruh waktu bagi sebuah taman bermain anak-anak yang cukup prestise. Seiring kehidupan yang mulai membaik, perempuan itu tak lagi mengerjakan semua sendiri. Apalagi seorang buah hati lagi telah hadir.

Sang suami memintanya lebih konsen kepada pekerjaan paruh waktu yang digeluti istrinya. Tahun ke empat pernikahan mereka mulai menyewa baby sitter, ketika itu si bungsu belum lagi berusia sepuluh bulan.

Lalu datanglah kesempatan bagi sang istri. Lembaga tempat dia bekerja paruh waktu, menawarkan program training ke luar negeri. Awalnya sang istri ragu, sebab dia khawatir meninggalkan anak-anak selama dua pekan. Tetapi lelaki yang dicintainya memberikan support dan mendorongnya untuk pergi,

“Ini pengalaman bagus buat Ibu,” kata lelaki itu.
Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan kepalanya,
“Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Ibu harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang menjaga anak-anak.”

Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan keluarganya. Selama dua pekan di sana dilaluinya dengan rindu yang menyiksa, dan perasan berat karena selalu terbayang anak-anak.

Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. Meskipun sang suami selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dan perasaannya benar.

Anak bungsu mereka dirawat di rumah sakit karena demam berdarah! Suaminya yang takut membuatnya panik baru menjelaskan ketika istrinya pulang ke tanah air.

“Maafkan ayah, ayah takut ibu bingung.”
Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik Tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya, hal yang membuat jantungnya luruh.

Suaminya jatuh cinta.
Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu mertuanya menangis tersedu-sedu menjelaskan apa yang terjadi.

Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh. Apalagi ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya jatuh hati, adalah baby sitter yang mereka sewa.

Mereka hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.
Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. Harapan-harapan yang dibangunnya seakan menguap.
Suaminya berpaling. Lelaki yang telah membuatnya merasa seperti seorang putri, jatuh cinta lagi.
Allah… apa maksudmu dengan ini semua? Batin sang istri yang terkoyak. Dengan hati hempas, dia memanggil baby sitter mereka. Baru kali ini si perempuan memandang lekat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu.

Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. Kulitnya bersih, rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu tak dikiranya kecantikan lugu itu akan memorakmorandakan rumah tangga mereka.

Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang tertunduk salah tingkah.
“Sudah sejauh apa?’
Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.
“Apakah kamu menyukai Bapak?”
Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.
“Saya tak keberatan jika bapak menyukaimu, dan kamu menyukai bapak, Kalian bisa menikah!”
Saya kaget. Saya berada di sana, menemani perempuan yang telah lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya mengejutkan saya.

Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah. Saat itu suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga mereka leluasa berbicara. Tidak jauh dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis sesenggukan. Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.

Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua. Sahabat saya menangis. Belum pernah saya melihat air mata sebanyak itu tumpah di wajahnya.

“Saya sedih,” bisiknya, “Salahkah?”
Saya menggeleng. Kesedihan adalah teman kemanusiaan. Tak apa.
“Ibu tadi cerita, bahkan ketika Andin sakit, Ayahnya memilih menemani perempuan itu berobat, meski hanya flu biasa, dan meninggalkan Andin diperiksa hanya dengan ibu,”

Ah, lelaki begitu mudahkah larut dalam pesona?
Saya kehilangan kata-kata. Percuma mengibur, apalagi berkata saya mengerti perasaannya. Saya tak ingin berbasa basi yang tidak perlu.

Kehidupan berlanjut. Suami perempuan itu mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi. Lelaki itu memohon-mohon agar sang istri mau memaafkannya.

“Bisakah?” tanya saya suatu hari. Ketika itu tahun-tahun sudah berlalu begitu banyak.
“Saya tidak tahu,” jawab sahabat saya.
Selalu dan selalu, matanya yang cerah meredup setiap teringat kisah itu. Barangkali memang ada beberapa luka yang tak bisa sembuh, bahkan oleh waktu.

Enam bulan setelah kejadian itu, sahabat saya memang sempat bercerita perasaannya setiap kali suaminya mendekati,
“Saya merasa jijik,” ujarnya dengan wajah bersalah.
“Tak apa, semua perlu waktu. Lagian yang terjadi tidak sejauh itu. Jangan menyiksa pikiran,”
“Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Saya diam. Sahabat saya benar. Hanya suaminya dan si baby sitter yang tahu segala. Mereka terkadang pergi ke luar rumah berdua. Dulu terasa biasa saja mereka hanya ke warung, atau apotik. Entahlah.

Ketika saya meminta izin menuliskan cerita ini, sahabat saya mengiyakan, meski dia masih belum lagi sembuh dari kesedihan. Memang tidak ada perceraian. Sang suami tampak bersungguh-sungguh menjaga keutuhan keluarga mereka. Apalagi ada anak-anak diantara keduanya.

“Dia bapak yang baik!” papar sahabat saya suatu hari.
Kehidupan memang terus berjalan. Satu peristiwa, satu hati yang berdarah. Satu hati yang belum juga sembuh.
“Kami masih tidak bisa bersama,” jelasnya.
Saya mengerti. Peristiwa itu seolah membekukan semua kehangatan dan keceriaannya sebagai seorang istri. Sang suami tak memaksa. Menjalani saja kehidupan apa adanya. Anak-anak lebih penting.

Entah sampai kapan mereka bisa bertahan, saya tidak tahu. Tak juga mau menduga-duga.
Saya cukup senang akhirnya sahabat saya bisa mendapatkan kepercayaan diri yang sempat hancur ketika menyadari sosok perempuan yang telah merebut hati suaminya, tak hanya lebih cantik tapi juga jauh lebih muda. Perlahan sahabat saya mencoba melupakan apa yang terjadi. Padahal dunia sempat terasa berhenti baginya.

“Sampai saya sadar, Asma. Di luar sana, banyak pengalaman yang jauh lebih buruk, menimpa istri-istri lain. Apa yang terjadi pada saya, barangkali tak seujung kuku yang dialami perempuan-perempuan lain.”

Hubungan normal layaknya suami istri memang sudah patah, akan sulit merekatkannya kembali. Tapi saya mengagumi semangatnya mempertahankan pernikahan, dan tetap menjalaninya penuh syukur. Perempuan itu bahkan pasrah jika karena ketidakmampuannya sekarang, dikarenakan ulah sang suami, mungkin justru mengakibatkan sang suami menikah di belakangnya.

“Dulu hal itu perkara besar buat saya, tapi sekarang…” sahabat saya itu tertawa.
Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan padanya. Apakah dia bahagia? Apakah suaminya bahagia? Kenapa tidak bercerai dan sama-sama memulai yang baru? Sebagian orang mungkin akan berpikir begitu. Hidup terlalu singkat untuk larut dalam ketidakbahagiaan.

Betapapun saya menghormati komitmen keduanya. Juga perkataan sahabat saya, yang akan selalu saya ingat,
“Ada hati-hati kecil yang harus dijaga, Asma. Setiap mengingat mereka, maka luka-luka lain menjadi kalah penting. Kebahagiaan saya sempat runtuh, tapi kebahagiaan ketiga anak saya tidak. Dan saya harus bisa menjaganya. Sekuat saya.”

*****

Marriage

Choose Your Spouse Wisely

When I was teenager, I always dreamed to have a sexy tan guy with perfect smile to be my husband. Although I didn’t wish to have a marriage in young age but imagining to have that kind of guy would give me happy marriage, Deen and manners were on my last lists.

Time goes by, I got many experiences in my life, about relationship, life’s goal, loyalty, etc. Appearance realized me that it’s nothing without Akhlaq /manners.  As I realize that the aim for marriage is to worship Allah so it’s more than about  eye’s pleasure then.

There is no difference between man and woman in finding partner in Islam, Deen is over than anything but for me to find good husband isn’t only seek his Deen but also his manners, many muslim guys know about Deen but too bad it’s rare to find those who applies  it in real world. No wonder domestic violences, affair or dissatisfied between spouse  happen in muslim marriages because islam is just like status in their ID Card.

One thing which I  look for my marriage is a good husband with good manner. It’s simple but isn’t easy. I am not looking for the perfect one, but it seems likes very complicated for some of my friends. They think to get right spouse, all I need is the one who is settled in finance, has good job, sweet mother in law and also has some properties so when marriage happen we don’t think hard about our live and standing by our own foot. Everybody has their own wishes about their future marriage but since I understand that spouse isn’t only my partner in this world, choosing  the one with  Imaan dan manners as my priorities.

My spouse will be my field to get jannah, I believe that me is my husband’s deen, I can’t let my imaan destroy by choosing wrong partner just because his appearance or his degree, it’s a risky bargaining. Had many couples from relatives and friends failed in marriage because their intention were wrong, some getting married for wealth, positions, relatives, or maybe they feel ashamed living alone without husband because they are getting old.

Reasons can’t make a reason to get married with anyone. Be careful, marriage isn’t for years but its lasting to Jannah. Choose wisely your spouse, choose a good man/ woman with akhlak and love Islam by act then insyaAllah you will be most happiest one in the world but first off, fix yourself first, firm in your Deen, and pray to Allah. So, May Allah gives you Best partner for you, Aamiin.